0

Yang kasar itu amplas nomor tiga.

Merenunglah..
Semoga hatimu bisa dipenuhi dengan banyak rasa syukur.

Suatu siang yang terik menyengat di sebuah jalan di Jogjakarta, jalur kendaraan saya berjalan merayap pelan. Semeter demi semeter. AC di mobil udah di setting ke titik terendah buat ngelawan hawa panas dari luar yang mulai maksa mempengaruhi suhu di dalam mobil.

Mobil melambat maju karena kami harus bergantian jalur. Beberapa meter di depan saya, ada pengerjaan aspal jalanan.

Saya bantu mendramatisir kejadian aslinya ya.
Siang panas terik. Tanpa pohon rindang di kanan kiri. Alam terbuka. Aspal yang masih panas ngebul, di tuangkan ke jalanan. Para pekerjanya yang di dominasi oleh kaum adam sigap menyambut tumpahan aspal panas tersebut dengan segera menyebarkan rata ke kanan dan kiri jalur. Lalu menyeret aspal-aspalnya kembali biar lebih merata dengan kap kayu bergagang panjang kayak sapu ijuk di rumah saya.

Suhu aspal panas, ditambah suhu dari siang itu yang emang juga lagi panas. Double kill banget.
Bisa di bayangin kan gimana situasi nyata yang mereka hadapi itu?

Saya yang di dalam mobil dengan AC yang nyala aja masih berasa panas. Gimana bapak-bapak itu ya..
Duh, saya ga bisa ngomong apa-apa, cuma ngeliatin mereka aja dengan perasaan yang campur-aduk.

Lain hari lagi..
Sebelumnya, terima kasih ya para bapak-bapak tukang yang udah semangat bekerja dengan baik mengerjakan proyek rumah saya. Barakallah. Semoga bapak-bapak selalu sehat-sehat dan selalu berlimpah rezeki. Aammiinn.

tukang ngecetSore itu, salah satu tukang, lagi ngecat dinding luar rumah dari atas atap rumah. Bukan dari bawah ya, tapi emang dari atas. Cek di foto supaya lebih jelas dan paham ya.
Ya Allah, saya boro-boro mau pegang gagang kuas dan naik-turunin kuasnya kayak gitu..
Berdiri di pinggir atap tanpa pegangan dan nundukin kepala kebawah aja kayaknya saya berasa udah mau langsung nyungsep deh.
Hiiiyy …. Ngeriiiii.

Begitulah para lelaki sejati ya. Belum ataupun sudah menjadi suami dan ayah. Bekerja adalah identitas kejantanan mereka, pembuktian mereka akan namanya tanggung jawab. Panas atau hujan, jabanin aja semuanya. Memang itu harus di kerjakan kan?

Kamu tau gimana dengan makan mereka? Ga muluk-muluk ngarepin nasi dengan gulai ayam dan semangkok capcay seafood kok. Mereka makan yang ada aja. Nasi dengan telur dadar yang ada di warteg terdekat pun sudah nikmat. Atau, kadang-kadang nasi dengan ikan asin yang di goreng seadanya di bedeng mereka.

Jangan bayangin makan di meja makan. Mereka akan makan dengan ngedeprok di tempat di mana mereka bisa duduk. Kalo ga ada tempat bersih dan rata, maka makan sambil jongkok menjadi pilihan yang ga bisa mereka tawar.

Jangan kamu protes kebersihan alat makan mereka. Simpan jijikmu itu, ganti saja dengan do’a untuk kebaikan dan kesehatan mereka.

Dua contoh pekerjaan bapak-bapak tukang itu, sering kita temuin kan di mana aja kita lagi jalan…
Berat buat saya yang ngeliat..
Pejamkan matamu, bayangkan kamu di posisi mereka.
Untukmu yang menganggap biasa pekerjaan dan keberadaan mereka,tak apa, itu hak kamu. Demikian juga hak saya untuk merasa bahwa mereka dan pekerjaannya adalah hal yang luar biasa.

Demikian berat pekerjaan mereka, berharap nanti seminggu sekali bisa kirim uang buat keluarga di rumah yang selalu menanti.
Dengan berat pekerjaan yang mereka jalani, berpisah dari keluarga di rumah, lalu… masihkah anak-anaknya tega merengek minta ini-itu ke orangtuanya?

Saya suka miris melihat anak-anak yang kurang ngerti dan kurang peka untuk kesulitan-kesulitan orangtuanya. Masih aja cuek maksa minta beliin ini itu ke orangtuanya hanya demi sebuah keeksisan semata biar di akui sebagai teman oleh teman lainnya.

Kadang malah masih bisa petatang-peteteng belagu bergaya bak anak sultan, padahal kondisinya jauh panggang dari api.
Pengen banget nyleding kepalanya.

Masih juga berani ngebentak dan ngomel ke orangtuanya jika permintaannya ga di beri. Padahal bukan ga di beri, tapi emang kondisi keuangan orangtuanya yang belum mendukung.

Si anak, taunya cuma minta dan minta aja.

Paling gedeg banget kalo ada anak yang jelas banget tengsin binti gengsi sekaligus malu buat ngakuin kalo bapaknya itu tukang atau kuli bangunan, padahal jelas-jelas dia makan dari hasil keringat bapaknya nguli.

Di suruh belajar aja, ogah-ogahan, bahkan suka bolos, kadang malah jadi anak nakal dengan alasan jarang di perhatikan orangtua.
Padahal orangtuanya nyekolahin dia itu biar pinter, biar nanti besarnya itu bisa punya kehidupan yang jauh lebih baik dari orangtuanya sekarang. Jangan berakhir jadi pekerja kasar seperti orangtuanya itu.

Duhai kamu yang masih anak-anak dan yang umurmu masih muda belia…
Lihat sekelilingmu, perhatikan, amati dan  jadikan sebagai motivasimu. Bahwa kelak, hidupmu harus lebih baik dari yang ada sekarang ini.
Kamu bisa punya kehidupan yang lebih baik, asalkan kamu berusaha, sejak sekarang.
Masa tuamu di tentukan dari segala tindakanmu di masa mudamu.

 

Closing:
Dulu waktu saya masih kecil, setiap melewati para pekerja kasar seperti mereka, orangtua saya selalu pesen, bahwa kami kudu jadi sarjana, jangan jadi orang bodoh kalo ga mau nasibnya seperti mereka itu. Mereka itu contoh orang-orang yang malas belajar, ga mau jadi pinter.
Saya waktu kecil, memang agak malas sekolah, terutama jika dapat giliran masuk sekolah siang. Malesnya naudzubillah. Siang-siang terik, jam ngantuk, saya harus berangkat sekolah, jalan kaki pula tuh, dan pulangnya maghrib.
Dulu, saya ngalamin masuk sekolah pake dua shift, masuk pagi dan masuk siang. :D

Sekarang, saya ga mau meneruskan pesen orangtua saya itu ke anak-anak. Karena saat ini, faktanya banyak yang udah sarjana pun, malah kerja kasar jadi kuli. Jualan pake gerobak dorong. Jadi ojol. Jadi supri. Banyak kok. Sepanjang pekerjaan halal, kenapa enggak..
Mereka ga bodoh atau malas belajar. Mereka hanya belum bernasib baik saja.

Saya mesen ke anak-anak memang mereka tetap harus jadi orang pintar dan kreatif, biar kelak bisa bantu banyak orang dengan buka lapangan kerja yang lebih baik, atau ngajak orang lain ikut kerjasama dalam bisnis yang bisa dikerjakan fleksibel. Bantu keluarga para pekerja kasar itu dengan rezeki yang kita dapatkan, karena dalam harta kita itu ada hak mereka.

Ga ada yang bodoh dari mereka yang bekerja kasar. Mungkin hanya cara pandang kita aja yang belum halus memahami situasi hidup mereka.

Kita, jangan mandang rendah mereka yang jadi pekerja kasar. Tanpa mereka, rumahmu siapa yang bangun? Tanpa mereka, gimana jembatan bisa rampung? Tanpa mereka, gimana jalan-jalan yang kita lewatin itu bisa membentang?

Mereka punya andil besar. Mereka para pemain utama. Hanya saja mereka bekerja di belakang layar. Salahnya kita, yang sudah seperti terbiasa cuma melihat  yang ada di depan layar.

Pekerjaan mereka mungkin memang kasar. Tapi mungkin justru hati dan perasaan kamulah yang lebih kasar karena memandang rendah mereka.

Bersyukurlah jika hidupmu lebih baik dari mereka. Do’akan yang baik-baik untuk sesama. Simpan rapat sinismu itu, tak guna buat siapapun.

Lagian, yang kasar itu amplas nomor tiga. Jangan salah beli ya. :D

 

#30DWCJilid17 #Squad3 #day7

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *